Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

Sejarah

KGPH Hadiwidjojo
KGPH Hadiwidjojo

Panembahan Hardjonegoro (Go Tik Swan)
Panembahan Hardjonegoro
(Go Tik Swan)

Menurut buku ”Jawa Sejati” tulisan Prof. Rustopo disebutkan pada masa tahun 1960-an, setelah Indonesia merdeka tahun 1945, komunitas penggemar keris menyadari bahwa keris harus disosialisasikan kepada khalayak umum dan tidak terkubur menjadi pengetahuan ekslusive dalam keraton. Hal ini disusul dengan dibentuknya perkumpulan Boworoso Tosanaji pada tahun 1959 yang didirikan oleh alm. KGPH. Hadiwidjojo (cucu raja Paku Buwana X) bersama alm. Go Tik Swan (terakhir mendapat gelar kraton Kanjeng Panembahan Harjonegoro).

Dari sumber lain, pada tahun 1960 tercatat pernah dilakukan pameran dan seminar pertama bersama para pemerhati keris oleh Boworoso Tosanaji di Museum Radhyapustaka dikota Surakarta, Jawa Tengah - Indonesia. Selanjutnya komunitas ini melakukan diskusi berpindah-pindah antara lain di Jl. Ngadijayan dan terkadang di Jl. Suryohamijayan.

Tahun 1972, seminar dan diskusi dipusatkan di kantor PKJT (Pusat Kesenian Jawa Tengah) yaitu di Sasono Mulyo keraton Kasunanan Surakarta.

Menurut catatan lain, pada tahun 1975, Go Tik Swan (Kanjeng Panembahan Harjonegoro) bersama teman-teman komunitas keris se Jawa Tengah antara lain KRT. Gunandar Sumodipuro, R. Ng. Atmotjurigo, R. Yudosutrisno, R. Yudo Prawiro, R. Sukatno, Slamet, Suparman, Hadi Kasman, Fauzan dan beberapa yang lainnya, mendapat fasilitas peralatan dan ruang kerja di area PKJT untuk memulai membuat keris. Kegiatan di Sasono Mulyo itu ternyata semakin menarik perhatian generasi muda. Mulailah bergabung Suprapto Suryodarmo, Drs. Murtijono, dr. Tunjung Suharso Sulaksono, dr. Herman Sukarman, Sujarwo, Joko Prasetyo, Joko Subagyo, Agus Susanto dan Hasan, mereka bergabung dengan nama Paguyuban Paniti Kadgo dengan kegiatan yang lebih khusus pada penelitian dan praktek membuat keris.

Paguyuban Paniti Kadgo menjadi sebuah acuan untuk melestarikan keris yang kemudian mendapat tempat di kampus Akademi Seni Karawitan Indonesia, Sasono Mulyo, Keraton Surakarta. (Karawitan = sastra dan lagu Jawa yang berkaitan dengan gamelan Jawa).

Akademi Seni Karawitan Indonesia ini, kemudian ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan hingga sekarang menjadi Institut Seni Indonesia – Surakarta.

Dari catatan yang ada ternyata secara autodidak, keris juga dikerjakan oleh beberapa seniman (empu) antara lain Sumodadi (alm.) di Wlingi – Blitar, Jawa Timur, Ki Pakurodji di Magetan – Madiun, Jawa Timur, Djeno Harumbrodjo (alm) - Jogyakarta, yang awalnya diprakarsai oleh Dietrich Dressert dari Jerman, yang mendorong agar Djeno Harumbrojo menekuni kembali profesi pande besi dengan membuat keris. Djeno Harumbrodjo bersama Yosopangarso (alm) pernah aktif melakukan pengkajian dan praktek di Taman Mini Indonesia Indah – Jakarta dengan supervisor antara lain Ir. Haryono Haryoguritno.

Kemudian muncul seniman keris (empu) seperti KRT. Pauzan Pusposukadgo; KRT. Subandi Suponingrat, R. Ng. Suyanto, Yohanes Yantono, Sukamdi, KRT. Rudi Hartono Diningrat, M. Jamil, Fanani, H. Duraphi, H. Ahmad dan masih banyak lagi. Karena selain di Jawa Tengah, kini tersebar seniman keris antara lain di Malang – Jawa Timur, di Sumenep – Madura, di Denpasar – Bali yang terus aktif mengembangkan keris baru atau lebih dikenal dengan keris Kamardikan.

 

Keris Kamardikan